BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pencemaran udara atau
polusi udara kian hari semakin meningkat, ini sangat memprihatinkan mengingat
pencemaran adalah hal yang sangat membahayakan bagi kelangsungan makhluk hidup
dan lingkungannya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor
sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang
dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber
pembakaran lain,misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan,
dll. Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu diwaspadai, tetapi organisasi
kesehatan dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan yang dianggap serius.
Polutan udara yang
berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan,serta mudah merusak harta benda adalah
partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga, hidrokarbon, sulfur
dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor. WHO
memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor
akibat emisi kendaraan bermotor, sedagkan 10% sisanya menghirup udara yang
bersifat marginal. Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang
beresiko tinggi, misalnya wanita hamil, usia lanjut, serta orang yang telah
memiliki riwayat penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Celakanya, para
penderita maupun keluarganya tidak menyadari bahwa berbagai akibat negatif
tersebut berasal dari polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor yang semakin
memprihatinkan.
Beberapa hasil
penelitian tentang polusi udara dengan segala resikonya telah dipublikasikan,
termasuk resiko kanker darah. Namun, jarang disadari entah berapa ribu warga
kota yang meninggal setiap tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma,
maupun kanker paru-paru akibat polusi udara kota. Meskipun sesekali telah turun
hujan langit di kota-kota besar di Indonesia tidak biru lagi. Udara kota telah
dipenuhi oleh jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita
penyakit paru-paru dan saluran pernapasan. Bukan hanya infeksi saluran
pernapasan akut yang kini menempati urutan pertama dalam pola penyakit
diberbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita
penyakit asma dan kanker paru-paru.
Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud
dengan pencemaran udara?
Pencemaran udara
diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang
menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya.
Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah
tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat
mengganggu kehidupan manusia. Bila keadaan seperti itu terjadi maka udara
dikatakan telah tercemar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun 1999
mengenai Pengendalian Pencemaran udara, yang dimaksud dengan pencemaran udara
adalah masuknya atau dimaksuknya zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam
udara ambient oleh kegiatan manusia sehingga mutu udara ambient turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambient tidak memenuhi fungsinya.
Apa saja faktor
pencemaran udara?
1. Kecepatan kendaraan
Arus lalu lintas
kendaraan bermotor dengan kecepatan rata-rata rendah akan
menyebabkan peningkatan konsentrasi terutama partikel
karbon dioksida (CO) dan hidrokarbon
(HC) yang lebih berbahaya mengganggu kesehatan daripada dengan
kecepatan tinggi, dimana juga akan memproduksi lebih banyak
emisi gas buang yang
mengandung Nitrogen Oksid (NOx).
2. Usia kendaraan yang lama
Mesin kurang
berfungsi/sempurna akibat pemeliharaan dan suku cadang kendaraan
yang terbatas/tidak diproduksi lagi.
3. Kondisi lalu lintas
Volume lalu lintas
yang cenderung tinggi memberikan andil terbesar pencemaran
udara.
4. Kondisi atmosfir
Perubahan iklim
atmosfir seperti menimbulkan panas global, efek rumah kaca, dan
lain-lain.
Tujuan Penelitian
Pada dasarnya geografi
mempelajari tentang alam dan sekitarnya untuk itu kita tidak hanya harus
menguasai teori-teori saja, namun juga harus mahir dalam menganalisis persoalan
lingkungan. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran di butuh kan penelitian.
Tujuan penelitian ini
adalah mengetahui sejauh mana pencemaran udara yang terjadi di bumi dan
bagaimana cara kita mengurangi bahkan menanggulangi pencemaran tersebut.
Penelitian ini juga
bertujuan untuk menyelesaikan tugas bab 4 mengenai lingkungan hidup yang
materinya mencakup pencemaran air, tanah, dan udara. Sebagaiman tugas kita
sebagai seorang pelajar dapat melakukan perubahan bagi lingkungan dan sekitar.
Diharapkan dengan
penelitian ini kita bisa mempelajari bagaimana cara menanggulangi pencemaran
yang terjadi di bumi kita.
Tempat Penelitian
Kota Depok adalah kota
kecil di selatan Jakarta yang sudah mulai mengalami polusi udara yang cukup
memprihatinkan. Walaupun Depok bukan merupakan kota metropolis, tetapi karena
letak nya yang menghubungkan dengan ibukota Jakarta itulah yang menyebabkan
Kota Depok menjadi jalur stategis dan dilalui banyak kendaraan bermotor. Hal
tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas udara di kota tersebut. Kini
udara di Kota Depok mulai tercemar dan itu sudah cukup parah.
Polusi udara lebih
banyak di rasakan oleh orang orang yang sering berada di sekitar jalan raya
seperti pedagang kaki lima,pejalan kaki dan sebagainya. jika kita ingin
merasakan polusi udara, kita dapat pergi ke terminal bis ataupun di sepanjang
jalan raya. karena di tempat itulah terdapat banyak sekali kendaraan bermotor
yang mengeluarkan gas karbodioksida, dapat di bayangkan bagaimana keadaan udara
di daerah itu yang telah terkontaminasi dengan gas karbondioksida berlebih,
maka udara di sekitar daerah itu akan terasa lebih panas dari pada udara di
tempat lainnya.bukan hanya mengganggu aktifitas sehari hari tetapi dapat pula
menyebabkan penyakit gangguan pernapasan bagi orang yang tidak terbiasa
menghirup udara itu.
Tingkat pencemaran
udara di Kota Depok memang belum separah Kota Jakarta tetapi kita harus
mewaspadai dan berusaha untuk mengurangi tingkat pencemaran tersebut. Kondisi
itu akibat banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang lalu lalang di beberapa
ruas jalan utama di Depok, termasuk kendaraan angkutan umum yang jumlahnya
semakin hari semakin banyak saja. Jalan Margonda yang merupakan jalan utama di
Kota Depok mengalami tingkat pencemaran udara yang paling tinggi dibandingkan
dengan daerah lainnya.Tingginya tingkat pencemaran udara karena arus
lalu-lintas yang amat padat di daerah itu dibandingkan daerah lainnya,salah
satu alasan kepadatan arus lalu-lintas tersebut karena akses Margonda yang
merupakan pusat bisnis dan jalur yang menghubungkan langsung dengan ibukota
Jakarta, sehingga banyak kendaraan yang melintas di jalan yang selalu macet
hampir setiap hari tersebut.
BAB II
DASAR TEORI
Definis udara menurut
ahli :
ANAXIMENES
Menurutnya, udara
merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun
segala sesuatu. Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip
dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah
muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.
Pengertian umum udara
Udara merujuk kepada
campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara bumi yang kering
mengandungi 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon dioksida ,
dan gas-gas lain.
Definisi
Pencemaran udara
adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di
atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan
tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran
udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia.
Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau
polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan
dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun
global.
Pencemar udara
dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder.
· Pencemaran
Primer
Pencemar primer adalah
substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber
pencemaran udara. [Karbon monoksida]adalah sebuah contoh dari pencemar udara
primer karena ia merupakan hasil daari pembakaran.
· Pencemaran
Sekunder
Pencemar sekunder
adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi
pencemar-pencemar primer
di atmosfer. Pembentukan ozon dalam [smog
fotokimia] adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.
Sumber Pencemaran
Udara
Telah disadari
bersama, kualitas udara saat ini telah menjadi persoalan global, karena udara
telah tercemar akibat aktivitas manusia dan proses alam. Masuknya zat pencemar
ke dalam udara dapat secara alamiah, misalnya asap kebakaran hutan, akibat
gunung berapi, debu meteorit dan pancaran garam dari laut ; juga sebagian besar
disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya akibat aktivitas transportasi,
industri, pembuangan sampah, baik akibat proses dekomposisi ataupun pembakaran
serta kegiatan rumah tangga.
Terdapat 2 jenis
pencemar yaitu sebagai berikut :
a) Zat
pencemar primer, yaitu zat kimia yang langsung mengkontaminasi udara dalam
konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut bersal dari komponen udara alamiah
seperti karbon dioksida, yang meningkat diatas konsentrasi normal, atau sesuatu
yang tidak biasanya, ditemukan dalam udara, misalnya timbal.
b) Zat
pencemar sekunder, yaitu zat kimia berbahaya yang terbentuk di atmosfer melalui
reaksi kimia antar komponen-komponen udara.
Sumber bahan pencemar
primer dapat dibagi lagi menjadi dua golongan besar :
1) Sumber alamiah
Beberapa kegiatan alam
yang bisa menyebabkan pencemaran udara adalah kegiatan
gunung berapi, kebakaran hutan, kegiatan mikroorganisme, dan lain-lain. Bahan
pencemar yang dihasilkan umumnya adalah asap, gas-gas, dan debu.
2) Sumber buatan manusia
Kegiatan manusia yang
menghasilkan bahan-bahan pencemar bermacam-macam
antara lain adalah
kegiatan-kegiatan berikut :
a) Pembakaran,
seperti pembakaran sampah, pembakaran pada kegiatan rumah tangga, industri,
kendaraan bermotor, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang dihasilkan antara
lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO).
b) Proses
peleburan, seperti proses peleburan baja, pembuatan soda,semen, keramik, aspal.
Sedangkan bahan pencemar yang dihasilkannya antara lain adalah debu, uap dan
gas-gas.
c) Pertambangan
dan penggalian, seperti tambang mineral and logam. Bahan pencemar yang
dihasilkan terutama adalah debu.
d) Proses
pengolahan dan pemanasan seperti pada proses pengolahan makanan, daging, ikan,
dan penyamakan. Bahan pencemar yang dihasilkan terutama asap, debu, dan bau.
e) Pembuangan
limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Pencemarannya terutama
adalah dari instalasi pengolahan air buangannya. Sedangkan bahan pencemarnya
yang teruatam adalah gas H2S yang menimbulkan bau busuk.
f) Proses
kimia, seperti pada proses fertilisasi, proses pemurnian minyak bumi, proses
pengolahan mineral. Pembuatan keris, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang
dihasilkan antara lain adalah debu, uap dan gas-gas
g) Proses
pembangunan seperti pembangunan gedung-gedung, jalan dan kegiatan yang
semacamnya. Bahan pencemarnya yang terutama adalah asap dan debu.
h) Proses
percobaan atom atau nuklir. Bahan pencemarnya yang terutama adalah gas-gas dan
debu radioaktif.
Efek Negatif
Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Tubuh
Tabel 1 menjelaskan
tentang pengaruh pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang nilai
menunjukkan batasan kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh
manusia. Karbon monoksida, nitrogen, ozon, sulfur dioksida dan partikulat
matter adalah beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber
pencemar. Dari pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota
yang diketahui masuk dalam kategori tidak sehat berdasarkan ISPU (Indeks
Standar Pencemar Udara) adalah Jakarta (26 titik), Semarang (1 titik), Surabaya
(3 titik), Bandung (1 titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik),
Palangkaraya (4 titik), dan Pekan Baru (14 titik). Satu lokasi di Jakarta yang
diketahui merupakan daerah kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan
lapangan [1].
Tabel 1. Pengaruh
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Kategori
|
Rentang
|
Karbon monoksida (CO)
|
Nitrogen (NO2)
|
Ozon (O3)
|
Sulfur dioksida (SO2)
|
Partikulat
|
Baik
|
0-50
|
Tidak ada efek
|
Sedikit berbau
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan akibat kombinasi dengan SO2 (Selama 4 Jam)
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan akibat kombinasi dengan O3 (Selama 4 Jam)
|
Tidak ada efek
|
Sedang
|
51 – 100
|
Perubahan kimia darah tapi tidak
terdeteksi
|
Berbau
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan
|
Terjadi penurunan pada jarak
pandang
|
Tidak Sehat
|
101 – 199
|
Peningkatan pada kardiovaskular
pada perokok yang sakit jantung
|
Bau dan kehilangan warna.
Peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan pada penderita asma
|
Penurunan kemampuan pada atlit
yang berlatih keras
|
Bau, Meningkatnya kerusakan
tanaman
|
Jarak pandang turun dan terjadi
pengotoran debu di mana-mana
|
Sangat Tidak Sehat
|
200-299
|
Meningkatnya kardiovaskular pada
orang bukan perokok yang berpenyakit Jantung, dan akan tampak beberapa
kelemahan yang terlihat secara nyata
|
Meningkatnya sensitivitas pasien
yang berpenyakit asma dan bronchitis
|
Olah raga ringan mengakibatkan
pengaruh parnafasan pada pasien yang berpenyaklt paru-paru kronis
|
Meningkatnya sensitivitas pada
pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
Meningkatnya sensitivitas pada
pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
Berbahaya
|
300 – lebih
|
Tingkat yang berbahaya bagi semua
populasi yang terpapar
|
||||
Sumber: Bapedal [1]
Tabel 2. Sumber dan
Standar Kesehatan Emisi Gas Buang
Pencemar
|
Sumber
|
Keterangan
|
Karbon monoksida (CO)
|
Buangan kendaraan bermotor;
beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 10 mg/m3 (9
ppm)
|
Sulfur dioksida (S02)
|
Panas dan fasilitas pembangkit
listrik
|
Standar kesehatan: 80 ug/m3 (0.03
ppm)
|
Partikulat Matter
|
Buangan kendaraan bermotor;
beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 50 ug/m3 selama
1 tahun; 150 ug/m3
|
Nitrogen dioksida (N02)
|
Buangan kendaraan bermotor; panas
dan fasilitas
|
Standar kesehatan: 100 pg/m3 (0.05
ppm) selama 1 jam
|
Ozon (03)
|
Terbentuk di atmosfir
|
Standar kesehatan: 235 ug/m3 (0.12
ppm) selama 1 jam
|
Sumber: Bapedal [2]
Tabel 2 memperlihatkan
sumber emisi dan standar kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui
keputusan Bapedal. BPLHD Propinsi DKI Jakarta pun mencatat bahwa adanya
penurunan yang signifikan jumlah hari dalam kategori baik untuk dihirup dari
tahun ke tahun sangat mengkhawatirkan. Dimana pada tahun 2000 kategori udara
yang baik sekitar 32% (117 hari dalam satu tahun) dan di tahun 2003 turun
menjadi hanya 6.85% (25 hari dalam satu tahun) [3]. Hal ini menandakan
Indonesia sudah seharusnya memperketat peraturan tentang pengurangan emisi baik
sektor industri maupun sektor transportasi darat/laut. Selain itu tentunya
penemuan-penemuan teknologi baru pengurangan emisi dilanjutkan dengan
pengaplikasiannya di masyarakat menjadi suatu prioritas utama bagi pengendalian
polusi udara di Indonesia.
Zat-zat yang
menyebabkan pencemaran udara
Karbon Monoksida
Karbon monoksida,
rumus kimia CO, adalah gas yang
tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Ia terdiri dari satu atomkarbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan
kovalen dan satuikatan kovalen koordinasi antara atom
karbon dan oksigen. Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari
senyawa karbon, sering terjadi pada mesin pembakaran
dalam. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan
oksigen dalam proses pembakaran. Karbon dioksida mudah terbakar dan
menghasilkan lidah api berwarna biru, menghasilkan karbon dioksida. Walaupun ia bersifat racun,
CO memainkan peran yang penting dalam teknologi modern, yakni merupakan
prekursor banyak senyawa karbon.
Karbon monoksida,
walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di atmosfer sebagai hasil
produk dari aktivitas gunung berapi.
Ia larut dalam lahar gunung berapi pada tekanan yang tinggi di dalam mantel
bumi. Kandungan karbon monoksida dalam gas gunung berapi bervariasi dari kurang
dari 0,01% sampai sebanyak 2% bergantung pada gunung berapi tersebut. Oleh
karena sumber alami karbon monoksida bervariasi dari tahun ke tahun, sangatlah
sulit untuk secara akurat menghitung emisi alami gas tersebut.
Karbon monoksida
memiliki efek radiative forcing secara tidak langsung dengan
menaikkan konsentrasi metana dan ozontroposfer melalui reaksi kimia dengan
konstituen atmosfer lainnya (misalnya radikal hidroksil OH-) yang sebenarnya akan
melenyapkan metana dan ozon. Dengan proses alami di atmosfer, karbon monoksida
pada akhirnya akan teroksidasi menjadi karbon dioksida. Konsentrasi karbon monoksida
memiliki jangka waktu pendek di atmosfer. CO antropogenik dari emisi automobil
dan industri memberikan kontribusi pada efek rumah kaca dan pemanasan global. Di daerah perkotaan, karbon
monoksida, bersama dengan aldehida, bereaksi secara
fotokimia, meghasilkan radikal peroksi.
Radikal peroksi bereaksi dengan nitrogen
oksida dan meningkatkan rasio NO2 terhadap NO, sehingga
mengurangi jumlah NO yang tersedia untuk bereaksi dengan ozon.
Karbon monoksida juga merupakan konstituen dari asap rokok.
Oksida Nitrogen
Nitrogen oksida sering
disebut dengan NOx, karena oksida nitrogen mempunyai 2 macam bentuk yang
sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO. Sifat gas NO2 adalah
berwarna dan berbau, sedangkan gas NO tidak berwarna dan tidak berbau. Warna
gas NO2 adalah merah kecoklatan dan berbau tajam menyengat hidung.
Dari seluruh jumlah
NOx yang dibebaskan ke atmosfer, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk
NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi poluasi NO dari sumber
alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga
jumlahnya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah polusi NO yang diproduksi
oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat hanya pada tempat-tempat
tertentu.
Konsentrasi
NOx di udara di daeraah perkotaan biasanya 10-100 kali lebih tinggi
daripada di udara daerah pedesaan. Konsentrasi NOx di udara daerah
perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi nitrogen
oksida dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang
diproduksi manusia adalah dari pembakaran, dan kebanyakan pembakaran disebabkan
oleh kendaraan, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi
NOx yang dibuat manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas alam
dan bensin.
Udara terdiri dari
sekitar 80% volume nitrogen dan 20% volume oksigen. Pada suhu kamar kedua gas
ini hanya sedikit mempunyai kecenderungan untuk bereaksi satu sama lain. Pada
suhu yang lebih tinggi (di atas 1210oC) keduanya dapat bereaksi membentuk
nitric oksida dalam jumlah tinggi sehingga mengakibatkan polusi udara. Dalam
proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya mencapai 1210-1765oC dengan
adanya udara, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi
reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dalam proses pembakaran.
Pembentukan NO
dirangsang hanya pada suhu tinggi, oleh karena itu NO di dalam campuran
ekuilibrium pada suhu tinggi akan terdisosiasi kembali menjadi N2 dan
O2 jika suhu campuran tersebut diturunkan perlahan-lahan untuk memberikan
waktu yang cukup bagi NO untuk terdisosiasi. Akan tetapi jika campuran
ekuilibrium tersebut didinginkan secara mendadak, akan banyak NO yang masih
terdapat pada campuran suhu rendah tersebut. Pendinginan cepat tersebut sering
terjadi pada proses pembakaran.
Oksida Sulfur
Gas belerang oksida
atau sering ditulis dengan SOx, terdiri dari gas SO2 dan gas SO3 yang
keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau sangat tajam dan tidak
mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3mudah bereaksi
dengan uap air yang ada di udara untuk membentuk asam sulfas atau H2SO4. Asam
sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang
mengakibatkan kerusakan, seperti proses pengkaratan (korosi) dan proses kimiawi
lainnya. Konsentrasi gas SO2 di udara akan mulai terdeteksi oleh indera
manusia (tercium baunya) manakala konsentrasinya berkisar antara 0,3 – 1 ppm.
Hanya sepertiga dari
jumlah sulfur yang terdapat di atmosfer merupakan hasil dari aktivitas manusia,
dan kebanyakan dalam bentuk SO2 . Sebanyak dua pertiga dari jumlah sulfur
di atmosfer berasal dari sumber-sumber alam seperti volcano, dan terdapat dalam
bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh polutan yang dibuat
manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga
terkonsentrasi pada daerah tertentu, bukan dari jumlah keseluruhannya,
sedangkan polusi dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Transportasi
bukan merupakan sumber utama polutan SOx tetapi pembakaran bahan bakar
pada sumbernya merupakan sumber utama polutan SOx, misalnya pembakaran batu
arang, minyak bakar, gas, kayu dan sebagainya.
Pembakaran bahan-bahan
yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi
jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang
tersedia. Meskipun udara tersedia dalam jumlah cukup, SO2selalu terbentuk dalam
jumlah terbesar. Jumlah SO2 yang terbentuk dipengaruhi oleh kondisi
reaksi, terutama suhu dan bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx.
CFC
CFC merupakan
kepanjangan dari (Chloro Fluoro Carbon) atau yang disebut sebagai Freon, CFC
ini menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan
mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (ultraviolet)
mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi. Radiasi
dari UV ini akan mengakibatkan kanker kulit jika terkena langsung kulit manusia
dalam waktu yang cukup lama, apalagi bagi manusia yang mempunyai hobi berjemur.
Jika lapisan ozon semakin menipis dan berlobang, maka bumi ini seakan telanjang
dan tidak ada lagi pelindung dari radiasi UV. CFC ini dua ribu kali lebih
efektif memperangkap radiasi gelombang panjang daripada karbon. Menurut CFC ini
dapat bertahan di atmosfer selama beberapa dekade, sedangkan satu molekul
karbon dioksida dapat bertahan sampai 100 tahun, satu molekul nitrous oksida
selama 170 tahun, dan satu molekul metana selama 10 tahun.
Hidrokarbon
Hidrokarbon adalah
sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon
memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang berikatan dengan rantai
tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari hidrokarbon
alifatik. Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah
hidrokarbon dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen: CH4. Etana adalah
hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua atom karbon
bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga atom karbon:
C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan
seterusnya (CnH2·n+2).
VOC
VOC
adalah volatile organic compounds atau senyawa organik yang mudah
menguap. Sesuai dengan namanya, senyawa ini mudah menguap di udara bebas.
Dengan sifatnya ini, maka orang-orang yang dalam kesehariannya berkutat dengan
zat kimia ini memiliki risiko keterpajanan yang sangat tinggi. Apalagi zat
pelarut yang digunakan sebagai pelarut dalam banyak industri manufaktur
sebagian besar menggunakan VOC, misalnya benzena dan toluena, yang
oleh Environmental Protection Agency (EPA) dalam golongan 2B
(possible human carcinogenic).
Ozon (O3)
Ozon merupakan salah
satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen
fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan
ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon
terbentuk di udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan
panjang gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi
atom oksigen, tergantung dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat
membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah
panjang gelombang 240-320 nm.
Khlorin (Cl2)
Gas Khlorin ( Cl2)
adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin
2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas
khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang dunia
ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata
saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan
bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat
sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga dapat
mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada proses yang
terjadi di bawah ini.
Partikulat Debu (TSP)
Pada umumnya ukuran
partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung
masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti
bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena
partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan
menyebabkan iritasi.
Timah Hitam (Pb)
Gangguan kesehatan
adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang
menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala
keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan
sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan
hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota
badan, kejang dan gangguan penglihatan.
Parameter Kualitas
Udara
Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pemantauan terhadap beberapa
parameter kualitas udara yang berdampak negatif terhadap keselamatan dan
kesehatan masyarakat. Pendirian jaringan pemantauan kualitas udara di Indonesia
berkaitan erat dengan program-program Badan Meteorologi Se Dunia (WMO) antara
lain Program Global Ozone Observing System (GO3OS) di tahun 1950-an, Program
Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMoN) di tahun 1960-an, Program
Global Atmosphere Watch (GAW) tahun 1989 dan Program GAW Urban Research
Meteorological and Environment (GURME) tahun 1999. Sampai saat ini stasiun
pemantau terdiri atas 26 stasiun pemantau kimia air hujan(KAH) serta 37 stasiun
pemantau konsentrasi debu (SPM).
Sampai saat ini BMKG
memiliki 43 jaringan stasiun pemantau kualitas udara. Dari 43 Stasiun/ Unit
Kerja Pemantau Kualitas Udara, melakukan pengamatan parameter kualitas udara
sebagai berikut: Sebanyak 41 Stasiun melakukan pengamatan SPM (Suspended
Particle Matter), dan 29 stasiun diantaranya selain SPM juga melakukan
pengamatan komposisi kimia atmosfer/tingkat keasaman/kimia air hujan.
Lima (5) stasiun
berada di wilayah DKI Jakarta, dan khususnya di kantor Pusat BMKG Jakarta
selain melakukan pengukuran SPM dan komposisi kimia air hujan, juga melakukan
pengukuran SO2, NO2, aerosol dan ozon permukaan. Sedangkan di Stasiun Global
Atmosphere Watch (GAW Station) yang berlokasi di Bukit Kototabang- Sumatera
Barat yang terletak pada posisi 00o 12′ 17″ LS dan 100o 19″ 15″ BT pada
ketinggian 864.5 meter di atas permukaan laut, dilakukan pemantauan parameter
kualitas udara yang lebih komprehensif, meliputi : Aerosol
PM10,PM2,5,NO2,SO2,CO,O3,Gas Rumah Kaca (CH4, CO2,N20,SF6) dan radiasi UV-B
Fungsi stasiun GAW
adalah untuk mengkoordinasikan pengamatan dan penelitian perubahan komposisi
atmosfer dengan tujuan : – Memahami peranan kimia atmosfer kaitannya dengan
perubahan iklim regional-global. – Mengevaluasi pengaruh kimia atmosfer
terhadap lingkungan. Potensi yang dimiliki oleh Laboratorium Kualitas Udara
Badan Meteorologi dan Geofisika dalam mendukung pemantauan kualitas udara,
ditampilkan pada tabel di bawah ini.
METODA SAMPLING DAN
PERALATAN LABORATORIUM YANG DIGUNAKAN
BAB III
CARA KERJA PENELITIAN
Alat dan bahan
penelitian
Alat dan bahan yang
saya gunakan sangat sederhana. Saya hanya melakukan penelitian di kawasan jalan
raya Margonda dan terminal Depok karena di kawasan itulah pusat dimana banyak
kendaraan bermotor.
Selain itu saya
sebagai warga depok sendiri bisa merasakan bagaimana udara di kawasan
kota depok walaupun udara di kota depok belum seperti udara di kota jakarta
tetapi itu sangat menghawatirkan karena berpengaruh terhadap kesehatan
warganya.
Saya juga melakukan
penelitian dengan browsing melalui internet, di internet kita bisa mengetahui
segala hal yang kita cari, saya juga membaca beberapa surat kabar kota depok
mengenai pencemaran udara di kota depok yang semakin hari semakin parah.
Langkah kerja
praktikum
Melalui surat kabar
yang saya baca dan berdasarkan penelitian saya. Tingkat polisi udara di Kota
Depok diperkirakan sangat signifikan, berdasrkan hasil kajian yang dilakukan
pihak BLH ditiga ruas jalan utama yakni, Jalan Margonda, Jalan Raya Cinere, dan
Jalan Raya Bogor. Tingkat polusinya sudah diatas rata-rata angka 50 persen.
Tingginya tingkat
pencemaran udara disebabkan dua faktor, pertama, meningkatnya jumlah penduduk
yang berkolerasi dengan bertambahnya volume kendaraan.Kedua, banyaknya bengkel
yang tidak memiliki alat uji emisi.
Untuk mengatasi
masalah ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub)
untuk melakukan uji emisi terhadap seluruh kendaraan di Kota Depok baik itu
kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
Serta melakukan pelbagai upaya menekan tingkat polusi, termasuk dengan membuat ruang terbuka hijau (RTH) dan penanaman pohon trembesi di sepanjang Jalan Margonda dan Jalan Juanda.
Serta melakukan pelbagai upaya menekan tingkat polusi, termasuk dengan membuat ruang terbuka hijau (RTH) dan penanaman pohon trembesi di sepanjang Jalan Margonda dan Jalan Juanda.
Sementara Kepala Dinas
Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok Ulis Sumardi mengungapkan, pihaknya
membantu mengurangi polusi udara adalah dengan cara melakukan penanaman pohon
trembesi di sepanjang Jalan Margonda dan Jalan Juanada. Sebab, pohon trembesi
mampu menyerap karobonmonoksida yang dikeluarkan kendaraan bermotor. Jalan
Margonda akan menjadi paru-paru Kota Depok.
Berdasarkan
Undang-undang no 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruangan, ujar Ulis, warga dan
pemerintah diwajibkan membuat RTH. “Warga hanya diwajibkan menyediakan 10
persen lahan hijau di kediamannya, sedangkan kewajiban pemerintah adalah 20
persen. Jika perda tentang RTH nanti disyahkan maka setiap orang wajib menjaga
keasrian lingkungan sehingga tidak dapat sembarangan menebang atau memangkas
pohon yang telah ada.
Selain kawasan jalan
Margonda dan terminal depok ada satu lagi kawasan di depok yang termasuk rawan
pencemaran udara yaitu kawasan cimanggis yang menghubungkan ke daerah bogor.
Disana adalah kawasan industri oleh karena itu banyak pabrik-pabrik yang
berdiri.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Setelah melakukan
penelitia, kualitas udara Kota Depok bertambah buruk karena semakin tingginya
jumlah penduduk dankendaraan bermotor di kota itu. Kondisi itu diperburuk
dengan banyaknya daerah terbuka yang beralih fungsi menjadi kawasan
perbelanjaan atau niaga dan perkantoran. Berjubelnya jumlah kendaraan bermotor
dan bertambahnya penduduk penyebab buruknya kualitas udara di Kota Depok Dari
uji sampel Oktober 2010, kualitas udara terburuk ditemukan di Jalan Margonda
Raya. Rusaknya udara di pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan perbelanjaan
terbesar di Kota Depok itu karena tingginya mobilitas kendaraan bermotor.
Selain Jalan Margonda
Raya, kondisi udara di Jalan Siliwangi, Jalan Raden Ajeng Kartini, Jalan Dewi
Sartika, Jalan Nusantara juga sangat buruk. Namun tidak seburuk di.Jalan
Margonda Raya. Kualitas udara pada empat kawasan ini belumdi ambang batas. Di
Jalan Margonda banyak ditemukan partikel-partikel debu serta balian kimia
seperti asap dari knalpot kendaraan. Hal itu bisa berpengaruh pada kesehatan
pernapasan. Pendengaran juga bisa terganggu akibat dari suara bising kendaraan.
Kota Depok memang
memiliki kawasan hutan yang berada di Universitas Indonesia hutan tersebut
memiliki peran penting untuk keseimbangan alam di kawasan kota depok. Kawasan
Hutan Kota yang dikelola UI mencirikan ekosistem hutan tropis dengan tiga
bentuk ekosistem unggulan yaitu:
· Ekosistem
pepohonan yang bersumber dari Indonesia Bagian Timur,
· Ekosistem
pepohonan wilayah Indonesia Bagian Barat
· Komplek
vegetasi asli JABODETABEK yang dipadu serasi dengan zoning Hutan Jati Mas yang
tumbuh hijau menghampar diantara gedung Rektorat UI dan FASILKOM serta FISIP
UI.
Pembahasan
Dampak pencemaran
udara bagi kesehatan
Pencemaran udara
merupakan masalah global. Sumber pencemaran udara adalah terutama pembakaran
bahan bakar fosil untuk mendapatkan energi untuk industri dan transportasi.
Pencemaran udara pada
dasarnya berbentuk partikel (debu, gas, timah hitam) dan gas
(Karbon Monoksida (CO),Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur Oksida (SOx), Hidrogen Sulfida
(H2S), hidrokarbon). Udara yang tercemar dengan
partikel dan gas ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda
tingkatan dan jenisnya tergantung dari macam, ukuran dan komposisi kimiawinya.
Secara umum efek
pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya:
1) Iritasi pada saluran
pernafasan. Hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan
dapat terhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan.
2) Peningkatan produksi
lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar.
3) Produksi lendir dapat
menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.
4) Rusaknya sel
pembunuh bakteri di saluran pernafasan.
5) Pembengkakan saluran
pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran
pernafasan menjadi menyempit.
6) Lepasnya silia dan lapisan
sel selaput lendir.
Akibat dari hal
tersebut di atas, akan menyebabkan terjadinya kesulitan bernafas sehingga benda
asing termasuk bakteri/mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran
pernafasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.
Kategori
|
Rentang
|
Karbon monoksida (CO)
|
Nitrogen (NO2)
|
Ozon (O3)
|
Sulfur dioksida (SO2)
|
Partikulat
|
Baik
|
0-50
|
Tidak ada efek
|
Sedikit berbau
|
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan akibat kombinasi dengan SO2 (Selama 4 Jam)
|
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan akibat kombinasi dengan O3 (Selama 4 Jam)
|
Tidak ada efek
|
Sedang
|
51 – 100
|
Perubahan kimia darah tapi tidak terdeteksi
|
Berbau
|
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan
|
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan
|
Terjadi penurunan pada jarak pandang
|
Tidak Sehat
|
101 – 199
|
Peningkatan pada kardiovaskular pada perokok yang sakit jantung
|
Bau dan kehilangan warna. Peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan pada penderita asma
|
Penurunan kemampuan pada atlit yang berlatih keras
|
Bau, Meningkatnya kerusakan tanaman
|
Jarak pandang turun dan terjadi pengotoran debu di mana-mana
|
Sangat Tidak Sehat
|
200-299
|
Meningkatnya kardiovaskular pada orang bukan perokok yang berpenyakit Jantung, dan akan tampak beberapa kelemahan yang terlihat secara nyata
|
Meningkatnya sensitivitas pasien yang berpenyakit asma dan bronchitis
|
Olah raga ringan mengakibatkan pengaruh parnafasan pada pasien yang berpenyaklt paru-paru kronis
|
Meningkatnya sensitivitas pada pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
Meningkatnya sensitivitas pada pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
Berbahaya
|
300 – lebih
|
Tingkat yang berbahaya bagi semua populasi yang terpapar
| ||||
Sumber: Bapedal [1]
Tabel 2. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang
Pencemar
|
Sumber
|
Keterangan
|
Karbon monoksida (CO)
|
Buangan kendaraan bermotor; beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 10 mg/m3 (9 ppm)
|
Sulfur dioksida (S02)
|
Panas dan fasilitas pembangkit listrik
|
Standar kesehatan: 80 ug/m3 (0.03 ppm)
|
Partikulat Matter
|
Buangan kendaraan bermotor; beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 50 ug/m3 selama 1 tahun; 150 ug/m3
|
Nitrogen dioksida (N02)
|
Buangan kendaraan bermotor; panas dan fasilitas
|
Standar kesehatan: 100 pg/m3 (0.05 ppm) selama 1 jam
|
Ozon (03)
|
Terbentuk di atmosfir
|
Standar kesehatan: 235 ug/m3 (0.12 ppm) selama 1 jam
|
Dampak pencemaran
udara bagi lingkungan
Dampak terhadap
tanaman
Tanaman yang tumbuh di
daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya
dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis,
dan bintik
hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat
menghambat proses fotosintesis.
Hujan asam
pH biasa air hujan
adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2
bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak
dari hujan asam ini antara lain: Mempengaruhi
kualitas air permukaan, Merusak tanaman, Melarutkan logam-logam berat yang
terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
dan Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh
keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas
matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap
dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.
Dampak dari pemanasan
global adalah:
· Pencairan
es di kutub
· Perubahan
iklim regional dan global
· Perubahan
siklus hidup flora dan fauna
Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km)
merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilterradiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan
dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer.
Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju
penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga
terbentuk lubang-lubang pada
lapisan ozon
Upaya untuk mengurangi
dampak polusi udara
Mengurangi jumlah
mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum,
atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling).
Selalu merawat mobil
dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak
mengotori udara
Meminimalkan pemakaian
AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.
Mematuhi batas
kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin
lebih efektif.
Meminimalkan penggunaan bahan kimia.Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli.
Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.
Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.
Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.
Meminimalkan penggunaan bahan kimia.Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli.
Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.
Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.
Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.
Sebisa mungkin
menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan
menambah jumlah sampah.
Membiasakan menggosok
gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan keran terus-menerus. Jangan
sia-siakan air bersih.
Sebisa mungkin
menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari
kertas.
Mengurangi belanja
yang tidak perlu agar tidak menimbulkan sampah di kemudian hari.
Membeli bensin yang
bebas timbal (unleaded fuel).
Memilih produk yang
ramah lingkungan. Misalnya parfum non-CFC.
Memakai plastik
berulang kali. Sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat
beracun.
Tidak merokok.
Memilah antara sampah
basah dan sampah kering dan menyediakan tempat untuk keduanya.
Memfotokopi secara
bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong. Menghemat kertas
berarti mengurangi penggundulan hutan. Bumi yang hijau dapat menyerap polusi
lingkungan lebih baik.
Menggunakan lampu
dengan kapasitas yang tepat.
Bila kita menggunakan
kamar kecil, jangan lupa mematikan air setelah kita pakai. Ingat, semakin
banyak air terbuang percuma berarti kita turut memboroskan sumber daya alam.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari
penelitian ini adalah pencemaran udara selain disebabkan oleh faktor
alam, pencemaran udara lebih banyak disebabkan oleh manusia, misalnya dari
kendaraan bermotor, kegiatan industri dan sebagainya. selain dapat membahayakan
lingkungan, pencemaran udara juga dapat membahayakan kesehatan manusia.
Rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap lingkungan juga berpengaruh terhadap kualitas lingkungan
sendiri, apalagi di jaman globalisasi ini pembangunana dimana mana. Termasuk pembangunan
pabrik yang kalau tidak di perhatikan dapat membahayakan lingkungan.
Pencemaran udara dapat
memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan
hidup kurangnya perhatian dari pemerintah juaga memengaruhi perkembangan
pencemaran yang kian hari kian meningkat.
Saran
Menurut saya
masyarakat kurang memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan,
untuk itu perlu di adakannya sosialisasi mengenai lingkungan. Sebagai pelajar
kita juga memiliki peran, kita bisa memulai dari hal hal kecil seperti menggunakan
barang barang yang ramah lingkungan, mengadakan kegiatan positif seperti
penanaman seribu pohon.
Pemerintah adalah
pihak yang memiliki peran paling penting dan seharusnya pemerintah menindak
tegas para pelaku perusakan lingkungan , apalagi para pemilik pabrik yang
limbahnya berbahaya bagi kesehatan manusia, undang undang yang telah di buat
seharusnya ditegakkan agar tetap tidak terjadi pelanggaran.
Oleh karena itu kita
sebagai pelajar mulai dari sekarang harus memiliki kesadaran akan pentingnya
menjaga keseimbanga lingkungan dan kita juda bisa mempelajari bagaimana cara
mengurangi dan mengatasi pencemaran di bumi ini.
BAB 1 “ PENDAHULUAN”
1.1 Latar Belakang
Kendaraan bermotor kini merupakan hal yang sangat lazim kita saksikan berkeliaran di sepanjang jalan raya. Mulai dari kendaraan roda dua sampai roda empat, mulai dari kendaraan umum sampai kendaraan pribadi. Tentunya kendaraan bermotor ini mengeluarkan asap yang mengandung CO2, yaitu hasil pembakaran yang tidak sempurna, sehingga dapat mengganggu proses pernapasan bagi manusia. Di samping itu, asap kendaraan bermotor juga dapat menyebabkan polusi udara yang sangat mencemari dan merusak lingkungan.
Banyaknya penggunaan kendaraan bermotor dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia dan kehidupannya.” Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat polusi dari asap kendaraan bermotor yang telah berkembang pesat ini.” (Bapedal, 1998)
Kendaraan bermotor kini merupakan hal yang sangat lazim kita saksikan berkeliaran di sepanjang jalan raya. Mulai dari kendaraan roda dua sampai roda empat, mulai dari kendaraan umum sampai kendaraan pribadi. Tentunya kendaraan bermotor ini mengeluarkan asap yang mengandung CO2, yaitu hasil pembakaran yang tidak sempurna, sehingga dapat mengganggu proses pernapasan bagi manusia. Di samping itu, asap kendaraan bermotor juga dapat menyebabkan polusi udara yang sangat mencemari dan merusak lingkungan.
Banyaknya penggunaan kendaraan bermotor dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia dan kehidupannya.” Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat polusi dari asap kendaraan bermotor yang telah berkembang pesat ini.” (Bapedal, 1998)
1.2 Identifikasi masalah
1. Apa yang menjadi penyebab
terjadinya polusi udara di lingkungan?
2. Mengapa asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya polusi udara di lingkungan?
3. Seberapa besar alih asap kendaraan bermotor dalam menyebabkan polusi udara?
2. Mengapa asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya polusi udara di lingkungan?
3. Seberapa besar alih asap kendaraan bermotor dalam menyebabkan polusi udara?
1.3 Perumusan Masalah
1. Bagaimana upaya
manusia untuk mengurangi dampak asap kendaraan bermotor terhadap lingkungan?
Dalam masalah asap kendaran bermotor, manusia seharusnya menanggulangi dengan cara melakukan penanaman 1000 pohon atau Reboisasi
Dalam masalah asap kendaran bermotor, manusia seharusnya menanggulangi dengan cara melakukan penanaman 1000 pohon atau Reboisasi
1.4 Tujuan
Tujuan dibuatnya karya ilmiah ini yaitu:
1. Menjelaskan seberapa besar dampak asap kendaraan bermotor terhadap pemanasan global
2. Memberi pengetahuan kepada masyarakat mengenai dampak asap kendaraan bermotor
3. Menghimbau masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
Tujuan dibuatnya karya ilmiah ini yaitu:
1. Menjelaskan seberapa besar dampak asap kendaraan bermotor terhadap pemanasan global
2. Memberi pengetahuan kepada masyarakat mengenai dampak asap kendaraan bermotor
3. Menghimbau masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
BAB 2 “PEMBAHASAN”
2.1 Apa yang menjadi
penyebab terjadinya polusi udara di lingkungan?
Pencemaran udara terutama di kota-kota besar telah menyebabkan turunnya kualitas udara sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Menurunnya kualitas udara tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali dan tidak efisien pada sarana transportasi dan industri yang umumnya terpusat di kota-kota besar, disamping kegiatan rumah tangga, illegal logging, dan kebakaran hutan.
Pencemaran udara terutama di kota-kota besar telah menyebabkan turunnya kualitas udara sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Menurunnya kualitas udara tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali dan tidak efisien pada sarana transportasi dan industri yang umumnya terpusat di kota-kota besar, disamping kegiatan rumah tangga, illegal logging, dan kebakaran hutan.
2.2 Mengapa asap
kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya polusi udara di lingkungan?
Asap kendaraan bermotor mengandung beberapa zat yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, diantaranya adalah karbon dioksida, karbon monoksida, oksida nitrogen dan oksida belerang. Berikut ini kerugian yang ditimbulkan gas-gas tersebut:
1. Karbon dioksida. Karbon dioksida tergolong gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar karbon dioksida di udara dapat mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi.
2. Karbon monoksida. Gas ini bersifat racun, dapat menyebabkan rasa sakit pada mata, saluran pernafasan dan paru-paru. Jika masuk ke dalam darah melalui pernafasan, karbon monoksida bereaksi dengan hemoglobin dalam darah membentuk COHb (karboksihemoglobin).
3. Oksida Belerang Belerang oksida, apabila terisap oleh pernapasan, akan berekasi dengan air dalam sluran pernapasan dan membentuk asam sulfat yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit. Oksidasi belerang juga dapat larut dalam air hujan dan menyebabkan hujan asam.
4. Oksida nitrogen. NOx bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asap-kabut atau smog. Smog menyebabkan berkurangnya daya pandang, iritasi pada mata dan saluran pernapasan, membuat tanaman layu, serta menurunkan kualitas materi.
5. Nitrogen Monoksida (NO). Zat ini elemahkan sistem pernapasan paru dan saluran nafas sehingga paru mudah terserang infeksi.
Asap kendaraan bermotor mengandung beberapa zat yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, diantaranya adalah karbon dioksida, karbon monoksida, oksida nitrogen dan oksida belerang. Berikut ini kerugian yang ditimbulkan gas-gas tersebut:
1. Karbon dioksida. Karbon dioksida tergolong gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar karbon dioksida di udara dapat mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi.
2. Karbon monoksida. Gas ini bersifat racun, dapat menyebabkan rasa sakit pada mata, saluran pernafasan dan paru-paru. Jika masuk ke dalam darah melalui pernafasan, karbon monoksida bereaksi dengan hemoglobin dalam darah membentuk COHb (karboksihemoglobin).
3. Oksida Belerang Belerang oksida, apabila terisap oleh pernapasan, akan berekasi dengan air dalam sluran pernapasan dan membentuk asam sulfat yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit. Oksidasi belerang juga dapat larut dalam air hujan dan menyebabkan hujan asam.
4. Oksida nitrogen. NOx bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asap-kabut atau smog. Smog menyebabkan berkurangnya daya pandang, iritasi pada mata dan saluran pernapasan, membuat tanaman layu, serta menurunkan kualitas materi.
5. Nitrogen Monoksida (NO). Zat ini elemahkan sistem pernapasan paru dan saluran nafas sehingga paru mudah terserang infeksi.
Seberapa besar alih asap
kendaraan bermotor dalam menyebabkan polusi udara?
Sebuah sumber menyatakan bahwa konstribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, dibandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain.
Sebuah sumber menyatakan bahwa konstribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, dibandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain.
Hal yang sama secara
lebih jelas dikutip dalam berita berikut:
“Penyebab paling signifikan dari polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang menyumbang andil sebesar ±70 persen. Hal ini berkorelasi langsung dengan perbandingan antara jumlah kendaraan bermotor, jumlah penduduk dan luas wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah 9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 adalah 8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor di DKI Jakarta lebih banyak daripada penduduknya. Pertumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta juga sangat tinggi, yaitu mencapai 10,9 persen per tahun. Angka-angka tersebut menjadi sangat signifikan karena ketersediaan prasarana jalan di DKI Jakarta ternyata belum memenuhi ketentuan ideal.Panjang jalan di DKI Jakarta hanya sekitar 7.650 kilometer dengan luas 40,1 kilometer persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Padahal, perbandingan ideal antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14 persen.
“Penyebab paling signifikan dari polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang menyumbang andil sebesar ±70 persen. Hal ini berkorelasi langsung dengan perbandingan antara jumlah kendaraan bermotor, jumlah penduduk dan luas wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah 9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 adalah 8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor di DKI Jakarta lebih banyak daripada penduduknya. Pertumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta juga sangat tinggi, yaitu mencapai 10,9 persen per tahun. Angka-angka tersebut menjadi sangat signifikan karena ketersediaan prasarana jalan di DKI Jakarta ternyata belum memenuhi ketentuan ideal.Panjang jalan di DKI Jakarta hanya sekitar 7.650 kilometer dengan luas 40,1 kilometer persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Padahal, perbandingan ideal antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14 persen.
Dengan kondisi yang tidak ideal tersebut, dapat dengan mudah dipahami apabila
kemacetan makin sulit diatasi dan pencemaran udara semakin meningkat.”
(kabarindonesia.com tahun 2010)
Bagaimana upaya manusia
untuk mengurangi dampak asap kendaraan bermotor terhadap lingkungan?
Sudah semestinya masyarakat dan pemerintah perlu menetapkan dan melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Langkah-langkah yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat perlu diidentifikasi dan kemudian dihindari untuk mencegah resistansi (perlawanan) dari masyarakat agar upaya perbaikan yang ditempuh tidak menjadi kontraproduktif.
Dalam kenyataan, kita bisa melihat sendiri dengan sejelas-jelasnya banyak kendaraan bermotor di negara kita yang bebas berlalu lalang di jalan umum dengan mengeluarkan asap hitam pekat dan suara yang memekakkan telinga. Itulah salah satu contoh pahit penegakan hukum di Indonesia.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penanganan polusi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pelaksanaan kebijakan apapun tentu tidak akan mendatangkan hasil maksimal apabila hanya mengandalkan peran Pemerintah. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dan sinergi antara Pemerintah dan masyarakat dalam perbaikan lingkungan juga perlu digalakkan.
Sudah semestinya masyarakat dan pemerintah perlu menetapkan dan melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Langkah-langkah yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat perlu diidentifikasi dan kemudian dihindari untuk mencegah resistansi (perlawanan) dari masyarakat agar upaya perbaikan yang ditempuh tidak menjadi kontraproduktif.
Dalam kenyataan, kita bisa melihat sendiri dengan sejelas-jelasnya banyak kendaraan bermotor di negara kita yang bebas berlalu lalang di jalan umum dengan mengeluarkan asap hitam pekat dan suara yang memekakkan telinga. Itulah salah satu contoh pahit penegakan hukum di Indonesia.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penanganan polusi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pelaksanaan kebijakan apapun tentu tidak akan mendatangkan hasil maksimal apabila hanya mengandalkan peran Pemerintah. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dan sinergi antara Pemerintah dan masyarakat dalam perbaikan lingkungan juga perlu digalakkan.
Pada
dasarnya, banyak warga Jakarta yang telah memahami persoalan kota mereka dan
telah berinisiatif untuk ikut memperbaikinya. Gerakan “bike to work” (bersepeda
ke tempat kerja) adalah salah satu contoh bentuk kepedulian warga Jakarta untuk
mengurangi emisi kendaraan bermotor. Upaya kecil lainnya adalah program ‘one
man one tree’ (satu orang satu pohon) yang merupakan bentuk kecil dari
penghijauan guna mengurangi polusi udara
.
BAB 3 “PENUTUP”
3.1 Simpulan
Beberapa simpulan yang bisa penulis peroleh adalah:
1. Asap kendaraan bermotor merupakan penyebab utama pencemaran udara dengan kontribusi sebesar 60-70% disbanding penyebab lainnya.
2. Asap kendaraan bermotor mengandung zat-zat yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, antara lain karbon dioksida, karbon monoksida, oksida belerang, oksida nitrogen, dan nitrogen monoksida.
3. Upaya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan mencanangkan beberapa pasal belum berjalan dengan baik sehingga semakin menyebabkan kesemerawutan pencemaran udara.
4. Salah satu cara yang paling mudah untuk mengurangi asap kendaraan bermotor antara lain program “bike to work”, serta “one man one tree” sebagai salah satu cara untuk mengurangi dampak dari asap tersebut.
Beberapa simpulan yang bisa penulis peroleh adalah:
1. Asap kendaraan bermotor merupakan penyebab utama pencemaran udara dengan kontribusi sebesar 60-70% disbanding penyebab lainnya.
2. Asap kendaraan bermotor mengandung zat-zat yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, antara lain karbon dioksida, karbon monoksida, oksida belerang, oksida nitrogen, dan nitrogen monoksida.
3. Upaya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan mencanangkan beberapa pasal belum berjalan dengan baik sehingga semakin menyebabkan kesemerawutan pencemaran udara.
4. Salah satu cara yang paling mudah untuk mengurangi asap kendaraan bermotor antara lain program “bike to work”, serta “one man one tree” sebagai salah satu cara untuk mengurangi dampak dari asap tersebut.
3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
1. Masyarakat harus mengurangi angka kepemilikan dan pemakaian kendaraan bermotor.
2. Perlunya ketegasan dalam penegakan hukum dan tindak lanjut terhadap staf pemerintah yang lalai dalam menegakan hukum tersebut.
3. Harus lebih banyak organisasi atau lembaga yang mengadakan seminar mengenai bahaya asap kendaraan bermotor terhadap kelestarian lingkungan.
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
1. Masyarakat harus mengurangi angka kepemilikan dan pemakaian kendaraan bermotor.
2. Perlunya ketegasan dalam penegakan hukum dan tindak lanjut terhadap staf pemerintah yang lalai dalam menegakan hukum tersebut.
3. Harus lebih banyak organisasi atau lembaga yang mengadakan seminar mengenai bahaya asap kendaraan bermotor terhadap kelestarian lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Inurfitriana, I.
2010. Dampak polusi udara bagi kesehatan. Pontianak : WordPress
Marayoga, T. 2010. Polusi
udara di Jakarta. Jakarta : Kabari Indonesia
Achmad, A.
2010. Bahayanya asap kendaraan bermotor. Jakarta : Mulangtinande.net1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar